Minggu, 10 Oktober 2010

KONSEP "DOME HOUSE" UNTUK MASYARAKAT INDONESIA



Tema : Perlunya konsep rumah aman gempa di Indonesia

Hari minggu itu seperti hari weekend biasanya, hanya menikmati waktu dengan terbaring di tempat tidur sepanjang hari. Ketika pagi sudah jauh pergi saya pun terbangun lantas menyalakan televisi di ruang tengah, berbeda dengan acara TV mingguan yang umumnya hanya berisi acara kartun tidak jelas, tetapi hari ini semuanya berisi headline news mengenai bencana tsunami di aceh. Yah, Minggu, 26 desember 2004 merupakan hari yang tidak akan pernah terlupakan oleh seluruh masyarakat indonesia, saat saya menyaksikan berita-berita tentang kejadian tersebut, saya sempat tidak perduli dan tidak mau tahu mengganggap bencana tersebut seperti bencana biasa walaupun terkesan aneh karena “Tsunami kebanyakan terjadi di jepang bukan di negeri ini...tumben-tumbennya” keluhku dalam hati.
Namun ternyata perkiraanku salah, ini bukan kejadian biasa yang hanya muncul satu tahun sekali. Informasi dari berita-berita menunjukkan betapa masiv-nya penderitaan dan kerusakan yang diakibatkan. Hari-hari selanjutnya di televisi hanya berisi berita bencana tersebut. Masih teringat dengan jelas ketika saya dan keluarga menyaksikan rekaman tsunami di televisi yang diselingi lagu Ebiet G. Ade, Reaksi kami semua hanya terdiam dan terperangah. Tidak ada satu pun yang meyangka kejadian seperti ini bisa menimpa Indonesia khususnya Serambi mekah. Gempa 9.3 skala richter yang juga mengakibatkan tsunami, betul-betul memporak-porandakan aceh dan beberapa negara asia lainnya. Tidak pelak lagi 120.000 lebih korban jiwa dan sekitar setengah juta orang kehilangan tempat tinggal.
Kira-kira 4 bulan setelahnya, masih belum terhapus memori bencana di aceh. 28 maret 2005 tepatnya kembali terjadi gempa di Pulau Sumatra dengan kekuatan 8,7 skala richter dan konsentrasi kerusakan terbesar berada di Pulau Nias. Selanjutnya gempa terjadi di Jogja dan berbagai kota lainnya sampai akhirnya 30 september 2009 di Sumatera barat, seakan menjadi perjalanan panjang bencana Gempa dan penderitaan di Indonesia yang tiada henti. Berada di daerah cincin api (ring of fire) dan Sabuk Alpide (Alpide belt) yang merupakan tempat bertemunya 3 lempeng tektonik besar yaitu Indo-Australia, Eurasia dan pacific. Membuat negara kita pantas dijuluki sebagai Negara Gempa, tetapi kita tidak boleh menyalahkan hal tersebut karena sesungguhnya tuhan sudah menetapkan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Namun yang saya kritisi bahwa tidak ada satu pun pemikiran inovatif yang mampu untuk setidaknya meminimalisir korban jiwa dan kerugian yang diakibatkan. Fakta membuktikan bahwa korban jiwa yang meninggal akibat gempa bukanlah karena efek gempa itu secara langsung tetapi karena tertindih runtuhnya bangunan akibat goncangan hebat tersebut. Dan prihatin sebab saat ini, pemerintah dan instansi terkait hanya melakukan sosialisasi ketika gempa terjadi atau saat proses evakuasi. Apakah itu sembunyi di kolong meja atau tempat tidur, tidak berlari berbondong-bondong ataukah melindungi kepala dengan tas. Yang jujur saja ini bukan solusi karena sekalipun bersembunyi di bawah meja atau benda-benda lainnya tetapi jika bangunannya runtuh tentu mereka akan tertimpa dengan material yang jauh lebih besar, bahkan di sebagian penelitian memaparkan bahwa cara ini hanya akan mempertinggi resiko kematian !. Dan juga orang mana yang masih bisa berpikir tenang lalu sempatnya bersembunyi di bawah meja ketika gempa terjadi, tentu manusiawi jika mereka berlari keluar dengan sangat histeris dan panik.
Munculnya gerakan RUMAH AMAN GEMPA setidaknya bisa menjadi tonggak awal dalam membentuk konstruksi rumah yang aman terhadap gempa. Rumah aman gempa berarti berbeda dengan rumah tahan gempa, karena rumah aman gempa menjelaskan rumah tersebut sudah betul-betul aman dari gempa, berbeda dengan sebutan rumah tahan gempa karena rumah tersebut apabila rubuh masih di tolerir dan dianggap wajar. Namun untuk membangun rumah seperti itu tentu dibutuhkan konstruksi dan bahan material yang solid sehingga dapat menangkal goncangan gempa. Saya disini hanya ingin memaparkan salah satu konsep rumah aman gempa dan sekaligus applicable dengan masyarakat indonesia. Konsep rumah aman itu disebut Dome House atau Rumah kubah.

Apa itu “Dome House” ?

Internasional Dome House adalah salah satu pengembang yang mengkhususkan diri dalam pembangunan rumah kubah atau Dome House di Jepang. Jepang merupakan negara yang lebih akrab terhadap gempa bahkan bisa disebut jauh lebih berpengalaman dari negara kita, dan konsep rumah Dome House ini merupakan hasil pengembangan selama puluhan tahun yang diharapkan aman dan mampu untuk menangkal guncangan gempa. Bentuknya yang unik mirip dengan rumah iglo-nya masyarakat eskimo, Namun karena bentuknya yang unik itulah disamping tidak memiliki pondasi atau disebut struktur pondasi bebas yang tentu berbeda dengan rumah biasa terbukti stabil dan mampu memberikan gaya merata di semua sisinya bahkan ketika terjadi guncangan. Setelah Gempa di jogjakarta 2006 di dusun Ngelepen, Desa Sumberharjo, Kabupaten Sleman. 71 rumah kubah (dome) yang merupakan hasil bantuan LSM luar negeri diberikan kepada warga ngelepen yang kehilangan tempat tinggal.
Dengan balutan cat berwarna putih, rumah-rumah tersebut berjejer rapi di kawasan seluas 2,5 hektar. Dan warga Ngelepen kini menyebut daerah baru mereka tersebut sebagai New Ngelepen sebagai wujud harapan dan semangat baru. Ini membuktikan bahwa konsep rumah kubah bukanlah sesuatu yang baru dan asing lagi bagi masyarakat indonesia. Tetapi tunggu dulu, rumah kubah di jogja ini tidak sepenuhnya sama dengan rumah kubah di Jepang. Yang membuat keduanya berbeda ialah bahan dasar yang di gunakan rumah kubah jogja masih sama dengan bahan dasar bangunan pada umumnya. Jauh berbeda dengan rumah kubah di Jepang.

Lalu bahan dasar apa yang digunakan ?

Bahan dasar Dome House ini terbuat dari Expanded Polystyrene spesial yang disebut-sebut sebagai bahan bangunan generasi ke-4 setelah kayu, besi dan beton. Bahan ini sangatlah kuat dan solid karena memiliki Expansion Rate hanya 20 kali selain itu jauh lebih ringan dari bahan lainnya, berbeda dari Styrofoam biasa yang memiliki Rate 50-60 kali yang berarti ruang udara Styrofoam lebih banyak sementara kekuatannya jauh lebih. Yah, bahan Polystyrene ini sangat berbeda dengan bahan dasar yang biasa kita gunakan di Indonesia bahkan di perumahan New Ngelepen itu sendiri bahkan bahan ini tahan terhadap api. Jadi, rumah Dome House dijamin aman dari bahaya kebakaran. Namun tidak hanya sebagai rumah aman kebakaran dan gempa saja yang ditawarkan tetapi banyak kelebihan lainnya yang sangat bermanfaat apabila masyarakat indonesia ingin menerapkannya

Apa saja keuntungan dari bangunan Dome House ?

1. Konstruksi bangunan yang sehat
Konstruksi bangunan Dome House ini dibungkus larutan antioksidan yang dapat mengatasi asma, rinitis dan semua gejala-gejala “sick-house syndrome” dan “chemical sensitivity syndrome”. Dengan larutan antioksidan itu pula, dapat menekan oksigen aktif sehingga selain mampu memulihkan kesehatan juga dapat mencegah penuaan ditambah sirkulasi udara di dalam rumah menjadi sangat bagus. Selain itu Dome House bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya seperti formaldehid, pestisida, dan lain-lain. Jadi selain meningkatkan kesehatan, Dome House juga berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan.

2. Efisiensi Energi
Bahan dasar Expanded Polystyrene dapat menyekat energi thermal. Selain itu bentuk ruangnya memungkinkan sirkulasi udara yang merata dalam seluruh ruangan seperti yang sudah saya tekankan. Walhasil, Hanya dengan 1 buah Air Conditioner (AC) dalam 1 ruangan, cukup untuk seluruh ruangan Dome House, sehingga bangunan ini merupakan bangunan yang sangat hemat energi.

3. Daya Tahan Semipermanen
Tidak hanya bentuk strukturnya yang stabil, Dome House sekali lagi karena bahan polystyrene-nya tidak bisa berkarat seperti besi, tidak dimakan rayap, dan tidak lapuk/busuk seperti kayu. Betul-betul menawarkan ruang hidup semi-permanen yang nyaman

4. Tahan Angin Badai/Angin dengan Tekanan Kencang
Yah, Bentuk Dome House yang sedemikian rupa dapat meneruskan aliran angin yang berhembus ke arahnya, atau disebut Gale Resistant. Dalam kata lain bentuknya yang aerodinami mampu menghantar energi angin dengan baik

5. Bangunan yang Tahan Gempa
Bangunan rumah yang stabil, tidak mampu untuk digulingkan. Selain itu, Dome House juga sangat ringan sehingga dapat bertahan pada saat terjadi gempa, baik gempa yang lateral maupun vertikal.

6. Waktu perakitan yang sangat Singkat dan Murah meriah
Dome House dibuat dengan merancang dan merakit setiap bagian-bagiannya. Tiap bagian Dome beratnya hanya 80 kg. Perakitan bagian-bagian Dome yang sangat sederhana, hanya membutuhkan 3 – 4 orang bahkan 2-3 orang pun sudah cukup, dan kira-kira butuh waktu sekitar satu minggu saja sebelum Dome House siap dihuni. Jadi, karena bangunan ini tipe prefabrikasi sehingga biaya perakitan dan konstruksinya sangatlah murah meriah.

7. Ramah lingkungan
Pengembangan polystyrene yang hanya dibuat dari karbon dan hidrogen, selain itu pembangunan rumah Dome tidak menghasilkan limbah apapun. Jadi Rumah Dome House sangat ramah terhadap lingkungan bahkan tidak ada penebangan huta dalam prosesnya (tidak menggunakan kayu)

8. Bebas berkreasi
Sebagai bentuk perubahan gaya hidup, Dome House membuat pemiliknya dapat berkreasi sendiri dengan merancang setiap bagian-bagian menjadi bentuk rumah yang diinginkan selain itu pemiliknya dapat menata letak lantai sesuai keinginan, termasuk lantai loteng tengah.

9. Kekuatan Kubah
Sudah pasti Rumah Kubah ini tidak memiliki “sudut” di dalam ruangannya, tidak hanya sudut saja tetapi juga tidak ada batasan antara dinding dan langit-langit. Sehingga hal itu menciptakan ruang yang lebih lapang dan cahaya lebih mudah masuk.

Bagian-Bagian Utama “Dome House” ?

DOMEHOUSE Tipe7700 – Bagian-bagian Utama

Bagian Kubah – tembok
Lebar — 1,993mm Tebal — 175mm
Tinggi — 3,573mm Berat — 62.0kg

Bagian Kubah – Pintu
Lebar — 1,993mm Tebal — 175mm
Tinggi — 3,573mm Berat — 54.1kg

Bagian Kubah – Jendela
Lebar — 1,993mm Tebal — 175mm
Tinggi — 3,573mm Berat — 62.3kg

Bagian Atap
Lebar — 3,712mm
Tinggi — 545mm
Tebal — 175mm
Berat — 43.4kg

Bagian Atap – Jendela
Tinggi — 590mm Tebal — 175mm
Berat — 41.8kg Lebar — 3,712mm

Harapan terhadap konsep “Dome House”

Dome House tidak hanya menawarkan solusi sebagai Rumah Aman Gempa tapi juga menyajikan konsep rumah yang environmental friendly sekaligus sebagai bentuk perubahan terhadap gaya hidup. Dan yang lebih menarik lagi bahwa semua itu tidak menguras biaya besar-besaran, jadi sangat applicable dengan keadaan NKRI yang rawan gempa dan bencana lainnya sekaligus kondisi masyarakat yang saat ini jauh dari kata “sejahtera”. Perumahan New Ngelepen menujukkan bahwa konsep ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat indonesia, namun konsep rumah di New Ngelepen tidak sepenuhnya adopsi dari Jepang. Keinginan saya jelas bahwa suatu hari nanti ada Perusahaan atau developer yang mampu membangun perumahan dan menerapkan konsep Dome House yang betul-betul adopsi dari jepang. Selain itu saya mengharapkan pemerintah dan instansi lainnya untuk tetap mensosialisasikan konsep Rumah Aman Gempa khususnya Dome House itu sendiri, bahkan saya menyarankan apabila pemerintah ingin membuat pemukiman bagi masyarakat miskin agar mengaplikasi rumah Dome House ini. Akhir kata saya ingin mengatakan “Kita boleh mentolerir gempa, tapi kita tidak boleh mentolerir satu pun korban jiwa”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar